Baik di Eropa atau di Asia Tenggara, terdapat satu benang merah yang dapat diambil, yakni penggunaan kue putri salju sebagai bagian dari perayaan hari besar agama. Meski tidak ada agama yang benar-benar mempromosikan kue putri salju sebagai bagian dari ritual hari besar keagamaan, kehadiran kue berbentuk bulan sabit ini menjadi satu hal yang normal. Bahkan, ada beberapa orang yang merasa bahwa tanpa kue putri salju, rasanya tidak seperti berlebaran! Mengapa kenormalan ini bisa terbentuk?
Jika memahaminya dalam gambaran yang lebih besar, normality (keadaan yang normal) dapat terbentuk karena dua cara, yakni cara-cara koersif dan non-koersif. Dengan asumsi tidak adanya direct punishment (hukuman langsung) jika kue putri salju absen di meja tamu, dapat diyakini bahwa kenormalan kue putri salju ini terbentuk dengan cara yang non-koersif. Satu penjelasan yang paling masuk akal dari terbentuknya kenormalan ini adalah pelanggengan tradisi dalam satu konteks sosial yang saling berinteraksi secara horizontal dan vertikal.
#TokokuekeringKastangelterdekatdiCimahhi
#TokokuekeringkastangelrenyahdiBandung
#Tokokuekeringkastangeltanpatelurdibandung
#TokokuekeringkastangelpremiumdiCimahi
#TokokuekeringnastarbentuklovediBandung
#TokokuekeringnastarcoklatdiCimahi
#TokokuekeringnastarselaibluberidiBandung
#TokokuekeringputrisaljumilodiBandung
#TokokuekeringputrisaljusederhanadiCimahi
#TokokuekeringpitrisaljususudancowdiBandung


Tidak ada komentar:
Posting Komentar